Pertama kali bergabung dengan perusahaan ini, saya dihadapi oleh kondisi sedikitnya tim. Satu orang bisa menangani beberapa hal sehingga bisa dianggap tidak ada spesialis. Sementara itu perusahaan sedang mulai tumbuh pesat. Diwaktu yang sama, proses regenerasi tengah giat-giatnya dilakukan. Aplikasi yang ada hanya dapat dipahami oleh satu atau dua orang saja. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kedua orang tadi? Harus segera ada salinan dari dua orang ini.

Perjalanan selanjutnya adalah mengganti aplikasi yang sudah lama dengan aplikasi yang lebih bisa dipahami oleh generasi yang lebih baru. Mereka-mereka yang baru lulus dengan otak yang segar tentu siap untuk menerima pengetahuan baru. Sehingga, jika menulis di berbagai media untuk lowongan kerja, bisa menulis judul yang hebat-hebat. Jika masih mempertahankan aplikasi yang lama, para freshgraduate akan mengernyitkan kening sambil bertanya-tanya: aplikasi apa itu? Kok baru dengar? Emang pernah ada ya aplikasi itu? Dan sejumlah pertanyaan lain yang tidak akan bisa dibayangkan lagi. Yang terjaring dalam lowongan pekerjaan juga akan sangat sedikit jika tidak mau dibilang tidak akan ada yang tertarik mengisi lowongan itu. Selain itu, mempertahankan aplikasi yang lama itu benar-benar menyakitkan. Potensi kesalahannya besar serta tidak didukung oleh teknologi terbaru yang bisa meminimalkan kesalahan dan kerusakan. Keputusan untuk mengganti aplikasi merupakan keputusan yang cerdas, cerdik dan waktunya sudah cocok.

Aplikasi seperti apa yang cocok dengan budaya perusahaan yang lincah dan belajar terus-menerus? Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya aplikasi / kode yang berbasis open source-lah yang dipilih. Namun, bukankah aplikasi berbayar itu lebih nyaman? Tinggal bayar, selesai. Oh, tidak semudah itu Ferguso.

Sumber: https://medium.com/pujanggateknologi/sinkronisasi-data-pada-offline-first-web-app-d34e5b124283

Berikut ini beberapa hal yang kode berbasis open source merupakan pilihan yang tepat :

  1. Hemat devisa (no question asked)
  2. Investasi human capital sudah menjadi darah dan nadi sehari-hari dari perusahaan yang tercantum dalam salah satu misi perusahaan, yaitu mengembangkan paragonian.
  3. Dengan terbuka nya kode, maka sangat dimungkinkan untuk melakukan perbaikan hingga pada level yang lebih dalam untuk menyesuaikan kebutuhan perubahaan. Bandingkan jika kode nya tertutup sehingga tidak memungkinkan adanya perbaikan bahkan teknologi di belakang nya juga tidak diketahui.
  4. Keamanan perusahaan / negara lebih terjamin karena kode bisa diaudit oleh siapapun, termasuk jika ditemukan adanya celah keamanan yang bisa segera diperbaiki.
  5. Legal untuk dilakukan perbaikan maupun distribusi, bergantung pada jenis lisensi yang digunakan. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca disini salah satunya.
  6. Relatif mudah digunakan. Linux, OpenOffice, Postgresql, Firefox, Zimbra dan Blender adalah contoh-contoh aplikasi / sistem operasi yang berbasis open source yang sangat mudah digunakan. Big bug bunny adalah salah satu hasil karya cukup fenomenal yang memanfaatkan sejumlah aplikasi / program berbasis open source.
Big Bug Bunny dibuat dengan perangkat lunak Blender yang berbasis open source. Sumber: https://theawesomer.com/film-big-buck-bunny/1829/

Dengan menerapkan aplikasi yang berbasis open source ini semua implementasi ini berjalan lancar? Jawaban tegasnya adalah tidak, bahkan berdarah-darah. Lalu kenapa tidak kembali untuk menggunakan aplikasi yang berbayar dan tertutup (baca: close source) dengan dukungan vendor yang sudah terkenal? Kembali lagi, namanya belajar kemungkinan besarnya adalah berdarah-darah dan penuh dengan air mata. Ada yang sampai resign karena harus pulang larut malam terus, ada yang sakit bergantian dalam satu tim, ada yang sampai harus bawa anaknya ke kantor, macam-macam. Apakah dengan menggandeng vendor dan menggunakan aplikasi yang tertutup dijamin tidak akan ada masalah? Tidak juga, bisa berdarah-darah, air mata bahkan menimbulkan kerugian yang tidak sedikit seperti :

Jika sudah mengetahui bahwa baik menggunakan aplikasi berbasis open source maupun close source sama-sama berpotensi bermasalah dan gagal, mengapa masih diteruskan menggunakan yang berbasis open source? Jawabannya adalah seberapa besar niat untuk bertahan dan tabah untuk melalui semua permasalahan yang dihadapi sambil memperbaiki semua kekurangan yang ada menuju apa yang dicita-citakan. Ketabahan merupakan salah satu kunci penting dari semua keberhasilan disamping dengan kuatnya doa serta dukungan semua pihak.

Mengenai ketabahan, kita bisa belajar dari dua negara yang hingga saat ini masih diembargo oleh Amerika Serikat, yaitu Kuba dan Iran. Dalam kondisi terembargo, Kuba bekerja sama dengan dengan Malaysia mengembangkan vaksin halal meningitis seperti yang diberitakan disini, disini, disini. Kuba dalam keadaan terembargo dapat melakukan layanan kesehatan yang sangat baik bahkan sanggup memberikan beasiswa bagi mahasiswa asing, termasuk mahasiswa dari negara maju sekalipun. Dalam menghadapi kondisi krisis seperti saat ini, Kuba sanggup mengirim tenaga medis keluar negeri jauh lebih banyak dibandingkan Amerika Serikat jika terjadi bencana / wabah. Selain Kuba, negara lain yang terkena embargo adalah negeri para mullah, yaitu Iran. Berbagai tekanan maupun ancaman hingga fitnah datang bertubi-tubi ke negeri tersebut. Namun semua itu tidak menghalangi Iran untuk terus maju dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Di tengah kondisi yang tidak menguntungkan baik politik maupun ekonomi, teknologi rudal balistik menjadi momok yang menakutkan bagi negara-negara yang tidak senang dengan berbagai kemajuan yang dicapai oleh Iran. Banyaknya ilmuwan yang terbunuh hingga akses keuangan yang semakin dibatasi serta embargo yang tidak adil tidak membuat Iran menjadi hancur berkeping-keping, namun semakin kuat dan kokoh.

Kuba dan Iran telah menunjukkan dunia bahwa mereka mampu untuk terus bergerak maju meskipun halangan maupun ancaman datang silih berganti. Apa yang mereka miliki adalah ketabahan dalam menjalani semua proses yang ada.

ERP Enthusiast