Lebih dari 30 tahun Paragon berdiri. Diawali oleh oleh industri rumahan, kemudian berkembang pesat pada 5 tahun terakhir dengan pertumbuhan jumlah omset maupun individu di dalamnya. Dengan kondisi yang tumbuh seperti ini, Paragon senantiasa humble, bukan saja sebagai perusahaan namun juga entitas di dalam nya, dalam hal ini adalah para karyawan di Paragon. Untuk singkatnya, kita menyebut sebagai paragonian untuk semua karyawan Paragon.

Tidak semua paragonian ini berasal dari Jakarta. Bagi yang berdomisili di luar kota Jakarta, maka perusahaan menyediakan mess di sekitar kantor. Nah, mulai dari mess inilah semua cerita ini dimulai.

Sebagai salah satu paragonian yang pernah tinggal di mess, kebersamaan itu merupakan hal yang penting sekali. Ngobrol dan makan bareng itu jadi sesuatu yang amat bermakna. Mungkin ini biasa saja bagi sebagian orang, tapi amat bermakna untuk saya pribadi. Untuk lebih mengakrabkan satu sama lainnya, kita suka makan bareng. Makan bareng ini bukan sekedar makan bareng, tapi ada nilai-nilai kebersamaan dan kehangatan sesama paragonian.

Nah, makan bareng ini jadi ajang untuk saling diskusi terbuka untuk topik apapun, termasuk urusan kantor. Jadi, urusan kantor kadang masih terbawa tapi di kondisi yang tidak formal. Nah, pembicaraan ini menjadi lebih menarik ketika topik yang dibicarakan tersebut makin mengerucut. Paragonian dari tim sales itu mengusulkan sebuah ide untuk bisa dikerjakan oleh tim IT. Idenya cukup menarik nih. Tiap ketemu pasti bicara tentang itu, gak ada pembicaraan lain. Topiknya lagi hangat sekali.

Tidak berselang lama, dibuatlah sebuah prototipe dari ide itu. Belum sempurna, tapi masih bisa bekerja meskipun masih belum layak untuk digunakan di lingkungan produksi. Berbagai masukan pun datang agar prototipe dari ide ini semakin lebih lengkap dan mendekati ke kondisi layak guna.

Karena kesibukan dari masing-masing paragonian, ide ini sempat berhenti. Selain itu, para inisiator ide belum bisa menyakinkan direksi kenapa ide ini sangat layak untuk dijalankan.

Waktu berjalan dengan cepatnya. Namun, tetap saja, ide yang bagus itu tidak pantas untuk dibiarkan dan tidak diperjuangkan. Waktu yang ada bisa digunakan untuk menambah berbagai informasi pendukung kenapa ide ini harus tetap hidup. Ide ini senantiasa diperbaiki baik dari segi konsep hingga bagaimana implementasinya kelak meskipun sempat ada masanya ide ini mati suri.

Segala sesuatu di dunia itu selalu ada ajalnya, alias umur. Ide yang sempat mati suri itu kemudian dihidupkan kembali dengan konsep dan format yang berbeda. Dengan kata lain, umur untuk mati suri nya sudah berakhir. Paragonian menolak untuk menyerah. Format tim juga sedikit berubah, lebih kokoh dan makin kompak. Disamping itu, diperlukan cara-cara baru yang lebih kreatif untuk melalui rintangan yang ada. Kode juga dibuat kembali dari awal.

Alhamdulillah, apa yang dicita-citakan tercapai. Ide itu diluncurkan dengan nama yang sedikit berbeda. Apakah langsung berhasil ke titik final? Tidak. Sebagai bayi yang baru lahir, ide ini mengalami berbagai perbaikan. Dicoba dulu dengan lingkup yang kecil, lalu semakin meluas.

Pada kondisi pandemi seperti saat ini, justru ide ini menunjukkan peran yang sangat besar. Memang tidak mudah untuk mempertahankan sebuah ide dan terus memeliharanya. Seiring dengan berjalannya waktu, manajemen yang semakin solid, lingkungan yang semakin kondusif maka tidak heran ide ini semakin berkembang.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah kita harus senantiasa mempertahankan dan menghidupkan ide yang kita miliki. Mungkin saat ini kita belum menemukan alasan yang tepat atau bahkan belum bisa menyakinkan pihak lain atas ide tersebut. Tapi berjuang untuk ide tersebut adalah sebuah keharusan. Pilihannya adalah, kita atau kompetitor yang akan menikmati buah dari ide tersebut.

ERP Enthusiast