Tidur: Dari WFO ke WFH

Sudah lebih dari 5 bulan saya bekerja dari rumah, istilah kerennya sih WFH. 5 bulan ini benar-benar tidak terasa. Awalnya menyangka WFH itu hanya 1 bulan saja. Untuk tulisan saya kali ini, saya berusaha untuk tidak menyinggung siapapun ya, plus tidak salah ketik. Kalaupun salah ketik ataupun yang membaca jadi punya perasaan yang berbeda dan janggal, mohon maaf saja ya. Skripsi yang pernah saya tulis, ketika saya baca kembali malah bikin saya bingung, maksudnya apa tulisan ini???

Ketika masih WFO

Dimulai dari bangun tidur beberapa menit sebelum adzan subuh, sholat, sarapan pagi, mandi dan terburu-buru menuju titik dimana mobil omprengan ngetem. Yes, pagi-pagi udah olah raga kaki sampe jantung (alias takut ketinggalan). Syukur-syukur udah ada di tempat sebelum jam 6 pagi. Kalau ternyata si omprengan itu dateng telat, dalam rentang jarak 100 meter dia akan membunyikan klakson dan kita-kita udah siap-siap rebutan masuk ke mobil. Mobil berhenti sejenak, rebutan cari posisi nyaman, hitung depan sampe belakang. Apa sudah pas 11 orang? Sudah pas 11 orang, langsung berangkat. Bener-bener mirip mobil balap Formula 1. Dateng, ganti sana-ganti sini, berangkat.

Tadi saya nyebut mencari posisi nyaman kan? Betul. Karena selama perjalanan menuju kebon jeruk, hampir semua penumpang (terutama saya) akan kembali melanjutkan kenikmatan yang tadi sempat tertunda, yaitu tidur selama hampir 40 menit.

Pertanyaannya, kenapa sampai harus dibela-belain pake omprengan? Bukannya ada kendaraan umum lainnya? Nah, itu saya punya cerita tersendiri terkait hal tersebut.

Pertama, ngetem nya lama. Pernah naik bis kota dan ngetem sebelum masuk ke tol. Seperti biasa, tidur dong di bis. Udah puas tidur, sempat kebangun. Ya ampun, belum bergerak juga ini bis. Sejak saat itu gak mau pake bis itu kalau gak benar-benar terpaksa. Bahkan, sebelum masuk tol saja jalannya juga lambat. Dia baru ngebut di jalan tol.

Kedua, tidur di bis sampe kebablasan hingga RS Jantung Harapan Kita. Nah, ini jenis bis yang kedua ini larinya cepat dan gak pake ngetem. Pokoknya wus..wus..wus.. Bis jenis kedua terjadwal perjalanannya, berangkat maupun kembali. Jadi kalau ketinggalan di kloter pertama, masih bisa nunggu di kloter berikutnya dengan rentang waktu yang tidak lama. Nah, seperti biasa, setelah masuk ke dalam bis, dengan suasanya yang sangat nyaman itu cukup untuk membuat saya menjalankan kegiatan di dalam kendaraan, yaitu tidur. Nah, bis jenis kedua ini sayangnya tidak mampir (baca: berhenti) di kebon jeruk, jadi tidak ada pengingat atau apapun yang bikin saya tersadar untuk segera turun. Kalau sudah kebablasan seperti ini, naik ojeknya jadi lebih jauh. Dan, kejadian seperti ini sudah lebih dari 2x (gak mau bilang udah 3x). Kesel kan?

Ketiga, bawa kendaraan sendiri. Nah, ini relatif aman dan ideal. Tapi ingat, tol Merak-Jakarta itu selalu macet kalau pagi hari. Lumayan tuh mencet rem & gas gonta ganti. Atau lewat jalur normal yang bakal bersaing dengan berbagai kendaraan, baik motor maupun mobil. Selain itu, saya harus melek sepanjang perjalanan. Tidak ada istilah tidur selama perjalanan.

Sampai di kantor, lihat jam. Wow, masih ada waktu untuk menjulurkan tulang punggung. Lanjut ke mushola dan rebahan sejenak. Alarm kembali berbunyi pukul 7:25 pagi. Saatnya on fire hingga pukul 17:00. Loh, jam istirahatnya gimana? Okeh, di paragraf-paragraf selanjutnya baru akan disinggung. Hanya disinggung, bukan diceritakan panjang lebar.

Pukul 17:00 alarm kembali menyapa. Kembali mengejar omprengan atau bis kota seperti lagunya Achmad Albar (link). Pesan ojek, syukur-syukur tiba di kebon jeruk pukul 17:15. Seperti biasa, 20–30 meter dari titik pertemuan sang Formula 1 (baca: omprengan) yang dinahkodai oleh Pak Ahmad sudah memberi tanda. Berhenti sejenak, mobil bergoyang dulu sebenar akibat tidak seimbangnya tekanan dari sisi kiri, kanan dan belakang untuk waktu yang tidak bersamaan. Agar tidak terjadi pelanggaran dari SLA omprengan yang berhenti maksimal 1 menit, Pak Ahmad sudah kembali menekan pedal gas. Apa yang terjadi di dalam omprengan? Anda pasti sudah tahu.

Nah, itu kalau beruntung berjodoh naik omprengan. Bagaimana jika 2 meter sebelum tiba di titik pertemuan, sang omprengan sudah melaju alias ketinggalan? Nah, bisa alternatif lain ke bis kota. Untuk bis kota, maka berlaku hukum posisi menentukan tingkat kesadaran. Makin jauh dari posisi supir, maka teriakan kernet bis makin kecil terdengar atau bahkan tidak terdengar. Nah, untuk kasus tidak terdengar ini juga menimbulkan trauma tersendiri. Pernah tuh, beberapa kilometer dari lokasi saya harus turun dari bis kota, serangan sore mulai menyerang. Rasa kantuk datang tidak tertahankan. Alhasil, kebablasan. Bukan hanya 1x, tapi 3x berturut-turut (Senin, Selasa dan Rabu). Yang paling parah adalah kebablasan sampai menuju kota Serang. Terpaksa memberanikan diri untuk minta turun di jalan tol. Nyebrang lewat bawah tol untuk kembali menuju arah berlawanan. Jika naik omprengan, kejadian bablas seperti ini tidak akan terjadi karena baik berangkat maupun pulang sudah pasti dibangunkan oleh supir ketika sudah sampai di lokasi tujuan.

Ketika sudah WFH

Rutinitas dengan kendaraan umum sudah menjadi makanan sehari-hari bagi pekerja seperti saya. Namun, rutinitas ini menjadi berhenti untuk sebagian orang akibat adanya serangan mendadak covid-19. Untuk pekerjaan yang bisa dilakukan secara remote, maka orang bisabekerja dari rumah, alias WFH. Secara jadwal tidak mengalami perubahan. Namun, waktu yang terbuang selama di perjalanan menjadi sebuah penghematan. Selain itu, ada sejumlah keuntungan yang bisa diperoleh jika kita melakukan pekerjaan dari rumah :

  • Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan sehari-hari yang lebih berimbang terutama untuk wanita yang memiliki anak kecil yang membutuhkan perhatian yang lebih.
  • Mengurangi stress perjalanan.
  • Akses yang lebih luas dan banyak kesempatan kerja yang tidak dibatasi oleh lokasi geografis.
  • Menghemat pengeluaran baik dari sisi perusahaan maupun pekerja.
  • Berdampak positif bagi lingkungan berupa pengurangan emisi efek rumah kaca / polusi kendaraan bermotor.
  • Meningkatkan produktivitas dan kinerja dengan sedikitnya gangguan maupun politik kantor.
  • Kehidupan yang lebih sehat dan bahagia karena lebih banyak waktu yang dapat digunakan untuk hobi serta konsumsi makanan atau minuman yang lebih sehat / higienis.

Dengan WFH ini, istirahat di siang hari menjadi lebih berkualitas. Setelah sholat dan makan siang, bisa dilanjutkan dengan tidur siang baik itu di lantai maupun tempat tidur selama kurang lebih 20–30 menit. Tidak ada ceritanya ketika baru rebahan beberapa menit setelah sholat zuhur sudah dibangunkan oleh pengurus masjid. Ternyata masjid nya mau digunakan acara Yasinan di siang hari oleh ibu-ibu sekitar masjid. Nah, tidur siang di rumah akan terlaksana tanpa gangguan seperti ini. (Masih ingat kan paragraf sebelumnya mengenai kegiatan di waktu istirahat siang)

Ternyata istirahat berupa tidur siang ini memiliki sejumlah manfaat seperti yang tertulis di sini, sini, sini, sini, sini, sini yang jika dirangkum menjadi kurang lebih seperti ini :

  • Membuat lebih fokus dan segar
  • Meningkatkan produktivitas
  • Menurunkan stres
  • Meningkatkan fungsi kognitif
  • Memperbaiki suasana hati
  • Meningkatkan kewaspadaan
  • Mengatasi insomnia
  • Mencegah penyakit kardiovaskular
  • Meningkatkan kesehatan tubuh

Energi yang kembali pulih lewat aktivitas tidur siang ini bisa membantu beraktivitas lebih panjang. Setelah jam kerja, itu bisa dilanjutkan lagi dengan kegiatan lain yang tidak kalah manfaat nya, yaitu belajar. Apalagi belajar dengan kondisi energi yang cukup. Untuk kondisi seperti ini, waktu benar-benar tidak terasa. Begitu melihat jam, sudah tengah malam. Meskipun masih seger, tetap wajib dipaksa tidur agar esok hari bisa disambut dengan cerah.

ERP Enthusiast

ERP Enthusiast